10 Tahun Lalu, Ten Years Ago

22.00

Sepuluh tahun lalu, Minggu, 26 Desember 2004, sekitar pukul 8 kurang, pagi itu...

Telepon berdering, dan saya sedang bersiap-siap untuk pergi latihan silat di SMP Negeri 1 Comal. Ternyata Bapak yang menelpon, memberi kabar bahwa di Aceh baru saja terjadi gempa bumi. Memang, saat itu saya dan keluarga sudah sekitar 5 tahun hidup di Jawa, setelah sebelumnya tinggal di Aceh Utara, tepatnya Komplek PT PIM, Lhokseumawe. 

Tidak begitu "ngeh" waktu itu, mendapat kabar gempa, karena sejak kecil, di rumah Aceh memang sering terjadi gempa. Sambil lalu, saya pun melewatkan kepanikan Ibu dan berangkat latihan silat. Sekilas saya mendengar jika bagian depan garasi rumah retak, dan ada pula jalan terbelah.

Ngeeennngggg, eh bukan, dengan buru-buru, saya pun mengayuh sepeda menuju Comal. Pukul 12.30, saya pulang latihan, dan saat itu baru saya sadar betapa dahsyatnya kabar itu, betapa dahsyatnya gempa yang melanda Aceh, bahkan beberapa negara lain saat itu. Gempa 9,2 skala Richter meluluh lantakkan semuanya, dan menimbulkan tsunami. Ribuan, bahkan puluhan ribu orang tergeletak di jalan-jalan di Banda Aceh. Dan alhamdulillah, Lhokseumawe tidak terkena dampak tsunami, "hanya" terkena dampak gempanya saja. Bapak pun alhamdulillah sehat wal afiat.
Dahsyatnya Tsunami Aceh (Foto diambil dari Facebook)
Sebaliknya, di Banda Aceh, puluhan ribu mayat bergelimpangan, dan video amatir menunjukkan gulungan air yang "menyapu" semuanya. Rumah, mobil, bahkan kapal besar berbobot puluhan ton pun terbawa hingga ke tengah kota. Walaupun bukan kota tempat saya tumbuh, Banda Aceh dan beberapa kota lainnya yang terdampak tsunami, tapi bagaimanapun Aceh menjadi sejarah dalam hidup saya, menjadi tempat saya tumbuh bersama teman-teman.. 
PLTD Apung yang terdampar hingga jauh
"Bagaimana nasib teman-teman saya disana?"
Begitu pikir saya saat itu. Musibah tsunami Aceh menjadi headline berita selama berminggu-minggu. Tidak hanya media lokal, bahkan media internasional pun terjun meliput berita yang masuk dalam sejarah sebagai salah satu bencana terdahsyat di abad ke-21.
Beberapa nama korban tsunami di Museum Tsunami, Banda Aceh
Mungkin ada yang berpendapat tidak etis jika saya mengungkapkan hal ini, tetapi ada yang bilang, tragedi tsunami Aceh adalah satu "peringatan" dari Yang Maha Kuasa untuk Aceh, yang identik dengan "Serambi Mekkah" tapi tak lagi seperti "Serambi Mekkah". Saya kira banyak orang sudah mengetahui maksud dari perkataan saya, tak perlu saya bahas panjang lebar.
"ACEH. Bagaimana nasibmu kini?"
Aceh tampak telah bangkit dari keterpurukan, dalam waktu sepuluh tahun ini. Berusaha membangun kembali Image Serambi Mekkah dengan sebenar-benarnya, membangun dan menegakkan kembali syariat-syariat Islam disana, yang menjadikan Aceh sebagai "pembeda" di antara kota-kota besar lainnya yang semakin terjerumus dalam dahsyatnya kerusakan moral dan pergaulan bebas.
Cukuplah kuburan massal ini sebagai pengingat
Mungkin dengan peringatan sepuluh tahun tsunami Aceh ini juga menjadi peringatan bagi setiap individu dimana saja dan kapan saja, ketika kerusakan moral dan agama serta kemaksiatan telah merajalela, Yang Maha Kuasa tidak segan-segan memberikan "peringatan" yang dampaknya global (menimpa pelaku dan orang di sekitarnya), bukan hanya lokal (hanya menimpa pelaku kemaksiatan). Menjadi tugas kita untuk ikut memperbaiki kerusakan tersebut dan memerangi kemaksiatan.

Semoga Aceh benar-benar telah bangkit, dan tetaplah "beda" dan "istimewa", Wahai Nanggroe Aceh Darussalamku.
#Tribute to #10Tahun #Tsunami #Aceh

You Might Also Like

2 comments

Popular Posts

Like us on Facebook

Cari HP?